Banyak tahun yang lalu, ketika saya diundang berkhotbah di hari ulang tahun Komisi Pemuda sebuah gereja besar di Jakarta, saya mendapatkan hal yang sangat mengagetkan. Sebelum acara kebaktian, saya diajak ke sebuah ruangan untuk berdoa bersama sejumlah pemuda-pemudi yang bertugas melayani. Ketua pemudanya memimpin, dan memerintahkan untuk buka suara berdoa sehati. Padahal tidak mungkin sepuluh orang buka suara bersama-sama bisa sehati. Setelah berdoa kami memasuki ruangan kebaktian. Si ketua pemuda memimpin nyanyi dengan sangat bersemangat.
Setelah acara berjalan sekitar setengah jam, ia menyerahkan acara kepada saya untuk menyampaikan khotbah. Sebelum berkhotbah, saya bertanya, “seandainya terjadi gempa bumi dahsyat sepuluh skala richter, kita semua mati, berapa banyak orang di ruangan ini yang yakin pasti akan masuk Sorga?” Dari dua ratusan orang yang hadir, ternyata hanya tujuh-delapan orang yang berani dengan mantap mengangkat tangannya. Setelah saya mendorong-dorong akhirnya tambah beberapa orang yang angkat tangan. Tetapi ketika saya berkata bahwa mereka harus memiliki alasan yang tepat jika ditanya orang, beberapa orang segera menurunkan tangannya. Yang sangat mengherankan saya ialah pemimpin pemuda yang tadi memimpin nyanyi tidak mengangkat tangannya. Saya kaget dan bertanya sambil menunjuk kepadanya, “mengapa kamu tidak mengangkat tangan?” Dengan sedikit tersenyum ia menjawab, “kan besok-besok masih melakukan dosa.”
Setelah acara berjalan sekitar setengah jam, ia menyerahkan acara kepada saya untuk menyampaikan khotbah. Sebelum berkhotbah, saya bertanya, “seandainya terjadi gempa bumi dahsyat sepuluh skala richter, kita semua mati, berapa banyak orang di ruangan ini yang yakin pasti akan masuk Sorga?” Dari dua ratusan orang yang hadir, ternyata hanya tujuh-delapan orang yang berani dengan mantap mengangkat tangannya. Setelah saya mendorong-dorong akhirnya tambah beberapa orang yang angkat tangan. Tetapi ketika saya berkata bahwa mereka harus memiliki alasan yang tepat jika ditanya orang, beberapa orang segera menurunkan tangannya. Yang sangat mengherankan saya ialah pemimpin pemuda yang tadi memimpin nyanyi tidak mengangkat tangannya. Saya kaget dan bertanya sambil menunjuk kepadanya, “mengapa kamu tidak mengangkat tangan?” Dengan sedikit tersenyum ia menjawab, “kan besok-besok masih melakukan dosa.”