Kamis, 29 Januari 2009

KITAB SUCI DAN PENYANGKALAN-PANYANGKALAN MODERN

THE FUNDAMENTALS –

A TESTIMONY TO THE TRUTH

Volume 1

Edited by R.A. Torrey, A.C. Dixon and Others

Diterjemahkan oleh seorang ibu. (Tim Penerjemah THE FUNDAMENTALS),

Pengoreksi akhir: Dede Wijaya

Seri 4 Volume THE FUNDAMENTALS akan terus kami terjemahkan, jika saudara-saudari mau terlibat dalam kerja sosial ini, segera hubungi saya di 08180.275.8801 atau dedewijaya@gmail.com, seri 4 Volume ini dapat anda download di http://dedewijaya83.multiply.com bagian DOWNLOAD PDF. Jika semua sudah lengkap akan saya PDFkan hasil terjemahannya dan saya berikan Cuma-Cuma kepada para penerjemah dan akan saya muat diberbagai web dan blog Kristen dan nantinya bisa didownload gratis di web & blog2 saya. Artikel-artikel terjemahan terutama akan dimuat di www.kristenfundametal.co.cc dan www.forumteologi.com, dan http://kristen-fundamental.co.cc. Selamat membaca!

Bab 5 volume 1

KITAB SUCI DAN PENYANGKALAN-PANYANGKALAN MODERN

OLEH Professor James Orr, D.D.

United Free Church College, Glasgow, Scotland.

Apakah dewasa ini di tengah adanya kritik dan ketidakmapanan, terdapat suatu ajaran Kitab Suci bagi Gereja Kristen dan bagi dunia, yang dapat dipegang/dipertahankan, dan jika ada, apakah ajaran itu? Tak dapat diragukan lagi bahwa itu adalah sebuah pertanyaan yang sangat mendesak pada waktu ini. “Apakah ada suatu buku yang dapat kita anggap wadah wahyu Allah yang sebenarnya dan sebuah pedoman yang tak mung-kin salah dalam menjalani hidup dan dalam hal tugas-tugas kita terhadap Allah dan sesama kita?” Ini adalah pertanyaan yang sangat penting bagi kita semua. Limapuluh tahun yang lalu, mungkin bahkan kurang dari itu, pertanyaan tersebut hampir tak perlu muncul di antara kaum Kristen. Telah diakui secara umum, dianggap lumrah, bahwa buku itu memang ada, yaitu buku yang kita sebut Alkitab. Ini, diyakini, adalah sebuah kitab yang merupakan laporan terilhami dari seluruh kehendak Allah bagi keselamatan manusia; terimalah sebagai benar dan terilhami ajaran-ajaran kitab itu, turuti bimbing-annya, dan kau tidak akan tersandung, engkau tidak akan keliru dalam mencapai akhir hayat yang sempurna, dalam menemukan keselamatan, dalam meraih hadiah hidup abadi yang mulia.

Dewasa ini telah terjadi sebuah perubahan. Tidak dapat di-ingkari bahwa kita hidup di dalam era di mana, bahkan di dalam gereja sendiri, terdapat banyak perasaan tak-nyaman dan kecurigaan mengenai Alkitab – suatu keraguan untuk menyandarkan diri padanya sebagai sebuah otoritas dan untuk menggunakannya sebagai senjata presisi seperti yang pernah terjadi; dengan keinginan yang sama kuatnya untuk menemukan suatu azas yang lebih kokoh didalam otoritas di luar gereja, atau dengan orang-orang lain, dalam Kristus Sendiri, atau juga di dalam kesadaran Kristiani, dapat dikatakan, -- sebuah azas yang lebih pasti bagi iman dan hidup kristiani. Kini kita sering dengar referensi kepada substitusi, dalam Gereja Protestan tentang “KITAB SUCI YANG TAK MUNGKIN KELIRU BAGI GEREJA YANG TAK MUNGKIN KELIRU.” Dan implikasinya ialah bahwa ide yang satu sama tanpa azasnya seperti yang lain. Kadang-kadang diterima ide, mungkin agak umum, bahwa anggapan mengenai suatu otoritas di luar diri kita, - akal budi kita atau suara hati kita atau karakter spiritual kita – harus dilepaskan seluruhnya; bahwa yang dapat diterima hanyalah yang membawa otoritasnya di dalam dirinya sendiri dalam menuntut kepada badan spiritualnya, dan di sinilah letak penilaian untuk kita apa yang benar dan apa yang palsu.


KRISTUS DAN KRITIK

BAB 6 Volume 1

KRISTUS DAN KRITIK

OLEH Sir Robert Anderson, K.C.B., LL.D.

Pengarang “The Bible and Modern Criticism”, dll. London England.

Di dalam “Founders of Old Testament Criticism” Professor Cheyne dari Oxford memberi tempat pertama kepada Eichhorn. Ia bahkan menyebutnya, sebagai pendiri dari sekte itu. Dan menurut sumber yang sama ini, apa yang mendorong Eichhorn untuk memulai tugasnya ialah “harapannya untuk berkontribusi dalam memenangkan kembali kaum terpelajar kepada agama”. Rasionalisme Jerman pada penghujung abad ke-18 bersedia menerima Alkitab hanya dengan syarat menurunkannya ke tingkat sebuah buku manusiawi, dan kendala yang harus dihadapi ialah menghilangkan unsur mukjizat yang meliputinya. Bekerja di atas jerih payah para pendahulunya, Eichhorn mencapai hal yang memuaskan dirinya dengan menggunakan cara berpikir dari timur, yang mengambil hasil-hasil akhir dan mengabaikan proses-proses di tengahnya. Hal ini menguntungkan karena dua hal. Ia memiliki suatu unsur kebenaran dan ia konsisten dalam mempertahankan kehormatan bagi Kitab Suci (Alkitab). Karena mengenai sang pembuat “Kritik Tinggi (Higher Criticism)” telah dikatakan – yang tidak dapat dikatakan mengenai satupun dari para penggantinya, bahwa “iman untuk sesuatu yang suci, bahkan dalam mukjizat-mukjizat Alkitab, tidak pernah dihancurkan oleh Eichhorn di dalam pikiran kaum muda”.

Akan tetapi, dalam mata para penggantinya, hipotesis Eichhorn terbuka bagi penolakan yang fatal bahwa ia sama sekali tidak mencukupi. Sebab itu generasi pengkritik berikutnya mengikuti teori yang lebih drastis bahwa Kitab-kitab Musa adalah “mosaic” dalam arti bahwa mereka adalah pemalsuan-pemalsuan literer yang berumur lebih muda, terdiri dari bahan-bahan yang terdapat di dokumen-dokumen kuno dan mitos serta legenda bangsa Yunani…. Dan meskipun teori ini telah diubah dari waktu ke waktu selama abad terakhir, ia tetap merupakan pandangan “kritis” mengenai Pentateukh. Tetapi ia menghadapi dua penolakan besar, masing-masing bisa fatal. Ia tidak cocok dengan bukti-buktinya. Dan ia langsung menantang kuasa Tuhan Yesus Kristus sebagai seorang guru; karena salah satu fakta tak terbantahkan di dalam kontroversi ini ialah bahwa Tuhan kita mengesahkan Kitab-kitab Musa memiliki kuasa ilahi.

YANG ASLI DAN YANG PALSU

Sebaiknya kita membicarakan dahulu yang paling tidak penting dari keberatan-keberatan ini.

Kamis, 08 Januari 2009

GRAPHE TIGA BELAS TAHUN

YANG RABUN MATA MENUNTUN YANG BUTA MATA
Sejak diselamatkan, sebagaimana kebanyakan orang Kristen baru, demikian juga Dr. Liauw, merasa agak heran dengan adanya begitu banyak denominasi gereja yang pengajarannya berbeda-beda. Sebagai anak remaja pernah juga ia berpikir, mengapa disatukan saja agar lebih besar dan lebih ramai.

Tetapi setelah semakin dewasa, setelah lebih terangsang untuk mengejar kebenaran, beliau dapat mengerti mengapa ada banyak denominasi yang berbeda. Sebab jika penekanan dititikberatkan pada kebenaran, maka tidak dapat dihindarkan tumbuhnya berbagai denominasi. Karena kebebasan berpikir menghasilkan kebebasan menarik kesimpulan, dan pasti menghasilkan pengajaran yang beraneka ragam. Memang agak merepotkan bagi yang malas berpikir, tetapi bukankah lebih baik ada banyak pengajaran daripada hanya satu dan itu adalah pengajaran yang salah?

Sejak saat itu Dr. Liauw dalam memilih gereja selalu mengutamakan yang benar daripada aspek lainnya. Gereja yang besar, kaya, dekat rumah, banyak teman, tidak menggiurkannya. Tetapi gereja yang benar, yang alkitabiah, itulah yang paling dicarinya. Dr. Liauw pernah berada di sebuah gereja, yang gembalanya bergeser makin hari makin ke arah gerakan Kharismatik. Suatu ketika (sekitar tahun 1977) dalam acara retreat di pantai Pasir Panjang, ketika gembala dan peserta terhanyut dalam puji-pujian dan berbagai ekspresi kharismatikal, salah satu peserta, seorang misionari yang meminjam kan mobil, yang bernama Harley Back, meninggalkan ruangan dan pergi ke pantai. Dr. Liauw yang saat itu masih pemuda melihatnya dan menyusulnya ke pantai kemudian duduk di sampingnya serta menanyakan alasan ia meninggalkan ruangan. Misionari Harley Back mengatakan bahwa yang sedang dipraktekkan itu sesat.

Gereja Advent dan Sabat

Bahan dasar berasal dari Avoiding the Snare of Seventh Day Adventism, DR. David Cloud (www.wayoflife.org)

Salah satu hal yang membedakan gerakan Advent dari kekristenan lainnya adalah pengajaran mereka bahwa orang Kristen harus memelihara hari Sabtu sebagai hari Sabat, sama seperti di zaman Perjanjian Lama. Hal ini perlu dinilai secara Alkitabiah, oleh karena itu, marilah kita menyelidiki apa yang diajarkan oleh gereja Advent tentang hari Sabat, lalu kita bandingkan dengan ayat-ayat Firman Tuhan. Berikut ini adalah poin demi poin pengajaran mereka yang diambil dari publikasi mereka sendiri.

ADVENT MENGAJARKAN:
Bahwa hari Sabat mengikat bagi semua manusia sejak penciptaan hingga selama-lamanya. Advent mengatakan bahwa hari Sabat adalah bagi manusia secara umum dan diberikan pertama kali kepada Adam di taman Eden. Oleh karena itu, memelihara hari Sabat adalah tanda kesetiaan kepada Allah, sang Pencipta. “Allah menginstitusikan Sabat di Eden; dan selama Dia adalah Pencipta dan itu alasan kita menyembah Dia, maka demikian juga Sabat akan terus berlanjut sebagai tanda dan pengingat.... Memelihara Sabat adalah tanda kesetiaan kepada Allah” (Ellen White, The Great Controversy, hal. 386). “Sabat dipelihara oleh Adam dalam kondisinya yang tidak berdosa di Eden yang kudus; [juga dipelihara] oleh Adam yang sudah jatuh tetapi telah bertobat ketika ia diusir dari tempatnya yang senang. Ia [Sabat] dipelihara oleh semua bapa leluhur, mulai dari Habel sampai kepada Nuh yang benar, ke Abraham, ke Yakub.” (Ibid., hal. 398).

ALKITAB MENGAJARKAN:
1. Walaupun Sabat disinggung dalam Kejadian 2:2-3, peraturan Sabat tidak diberikan kepada manusia hingga diperintahkan kepada Israel di padang gurun (Neh. 9:13-14).
2. Sabat diberikan bukan kepada manusia secara umum, tetapi kepada Israel saja sebagai tanda perjanjian yang khusus antara dia dengan Allah (Kel. 31:12-17).
3. Ellen White menambahi informasi Alkitab ketika dia mengajarkan bahwa Adam dan para bapa leluhur memelihara Sabat. Alkitab sama sekali tidak menyinggung masalah ini. Bahkan, hal ini tidak mungkin benar. Jika Sabat telah dipelihara oleh manusia secara umum sejak penciptaan, maka tidak mungkin hari Sabat diberikan kepada Israel sebagai suatu tanda khusus.

ADVENT MENGAJARKAN:
Hari Sabat tetap mengikat bagi orang percaya Perjanjian Baru. “...dari sini terlihat jelas bahwa semua dari Sepuluh Hukum masih mengikat dalam dispensasi Kristen, dan bahwa Kristus tidak berpikiran mengubahnya. Salah satu perintah ini adalah pemeliharaan hari ketujuh sebagai Sabat...” (Bible Footlights, hal. 37).

ALKITAB MENGAJARKAN:
1. Perjanjian Baru adalah satu-satunya pembimbing tanpa salah mengenai bagian mana dari Hukum Musa yang masih mengikat bagi orang percaya zaman gereja. Perjanjian Baru dengan jelas mengajarkan bahwa orang percaya hari ini tidak terikat kepada hukum Sabat! “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus” (Kol. 2:16-17).

2. Menurut surat-surat Perjanjian Baru, masalah Sabat sama sekali tidak relevan bagi gereja. Dalam semua instruksi yang Allah berikan kepada jemaat-jemaat dalam surat-surat, hanya ada satu bagian yang menyinggung tentang Sabat – yaitu Kolose 2:16 – dan satu-satunya bagian tersebut hanyalah untuk menunjukkan pada kita bahwa Sabat tidak mengikat orang percaya Perjanjian Baru. Aneh sekali bahwa Surat-Surat PB hanya menyinggung “Sabat” satu kali, dan itupun menunjukkan bahwa Sabat tidak berlaku lagi, tetapi Advent begitu menekankan pemeliharaan hari Sabat. Jelas bahwa pemahaman Advent berbeda dengan para Rasul.

3. Sabat adalah tipologi atau simbolik akan hari keselamatan. “Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah. Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya” (Ibr. 4:9-10). Dalam Ibrani 4 ini, Sabat dipresentasikan sebagai simbolik hari keselamatan. Sebagaimana Allah beristirahat pada hari ketujuh dari pekerjaan PenciptaanNya, orang percaya hari ini akan beristirahat dalam pekerjaaan Keselamatan Yesus Kristus yang sempurna. Agar masuk ke peristirahatan Allah, seseorang harus dengan tenang menerima pekerjaan Allah dan berhenti dari usahanya sendiri. Keselamatan adalah anugerah Allah.

Minggu, 04 Januari 2009

ANTICHRIST'S ONE WORLD ECONOMY

PENYEBAB KRISIS DI AS

Dunia sempat panik ketika beberapa perusahaan perkreditan Amerika Serikat (AS) bangkrut, karena sudah dapat dihitung bahwa itu akan berdampak ke seluruh perusahaan perkreditan bahkan perbankan di AS. Dampak awalnya ialah harga saham di Dow Jones

meluncur turun. Segera menteri keuangan AS, Henry Paulson, merancang tindakan penyelamatan dengan mengajukan dana talangan US $ 700 miliar. Ketika usulan pertama ditolak oleh Kongres, saham meluncur lebih dahsyat lagi sehingga Paulson yang tentu backup oleh George W. Bush, menyatakan bahwa jika Kongres AS tidak mau mengerti maka seluruh dunia akan mengalami krisis ekonomi dahsyat. Akhirnya Kongres mau-tak-mau harus menyetujui program penyelamatan tersebut.

Christianto Wibisono dalam Suara Pembaruan tanggal 13 Oktober 2008, menyebutkan bahwa penyebab krisis finansial AS itu bukan karena George W. Bush melainkan karena model hidup rakyat AS yang lebih besar pasak daripada tiang. Banyak orang tidak tahu bahwa setelah krisis finansial sempat disejukkan dengan dana bailout US $ 700 miliar, sesungguhnya krisis Credit Card sedang menunggu giliran. Diperkirakan ada sekitar satu triliun dollar hutang Credit Card di AS. Kini Indonesia pun sedang dipacu pemakaian Credit Card atau lebih tepat kita sebut pembiasaan hidup berhutang melalui Credit Card.

Mengapakah bisa terjadi krisis finansial di AS? Sesungguhnya itu karena saking percayanya dunia terhadap sistem demokrasi dan perekonomian pasar bebas AS. Semua orang berusaha menyimpan dananya di AS bahkan hampir semua koruptor negara dunia ketiga pun menyimpan dana mereka di bank-bank AS. Ini menyebabkan bank-bank di AS overliquid (kebanyakan uang), sehingga bunganya rendah. Karena bank-bank berlimpahan dana maka mereka menawarkan kredit dengan gampang kepada perusahanperusahaan perkreditan perumahan. Karena dana disalurkan dengan begitu gampang, para pengambil keputusan di perusahaan perkreditan dengan gegabah demi mengejar omset penyaluran kredit sehingga tanpa melalui studi kelayakan customer memberikan kredit perumahan kepada orang-orang yang sesungguhnya tidak sanggup mencicil. Sementara orang yang ditawarkan rumah telah terbiasa hidup lebih besar pasak daripada tiang maka tanpa banyak mempertimbangkan kemampuannya untuk mencicil telah rakus mengkredit rumah yang besar dan mahal yang melampaui kemampuannya. Akhirnya kredit macet menggurita hingga perusahaan-perusahaan perkreditan bangkrut, dan otomatis bank pemberi pinjaman juga terseret. Kalau hanya jumlah kecil saja yang macet, tentu tidak menjadi persoalan, tetapi kalau miliaran dollar tentu menjadi urusan besar, bahkan menjalar sampai menjadi problem internasional.

Apa Yang Membuat Amerika Serikat Hebat?

MUNCULNYA SISTEM DEMOKRASI

Sejak tahun 1998, ketika mahasiswa berkumpul di gedung DPR, dan di korankoran diberitakan serta dibahas segala sesuatu tentang demokrasi, rakyat Indonesia tersentak oleh kata "demokrasi". Kata demokrasi berasal dari kata bahasa Yunani "demos" dan "kratos" dengan arti "demos" sama dengan people atau rakyat dan "kratos" adalah rules atau memerintah, sehingga kata demokrasi berarti pemerintah oleh rakyat (Worldbook Dictionary, Thorndike Benhard).

Sebenarnya masalah demokrasi tentu sudah lama sekali populer, tetapi karena Soeharto bertindak diktator, demokrasi baru populer pada tahun 1998 ketika mahasiswa berusaha menumbangkannya. Masyarakat Indonesia baru berkenalan dengan demokrasi yang sudah lama dikenal bangsa lain. Baron de Montesquieu (1689 - 1755) telah mencetuskan sistem pemerintahan yang didasarkan pada keseimbangan kekuasaan antara eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Amerika Serikat (AS) adalah negara pertama yang mempraktekkan sistem pemerintahan demokrasi (1776) dengan sistem federasi. Kemudian pada 14 Juli 1789, terjadi revolusi yang menumbangkan raja Louis XVI di Perancis, yang kemudian dipimpin lagi oleh Jenderal Napoleon Bonaparte secara diktator.

Sejak merdeka dari Inggris (4 Juli 1776), United States of America (USA) menjadi negara demokratis pertama di muka bumi. Presiden pertama AS, George Washington, adalah orang Kristen lahir baru yang tadinya berasal dari gereja Episkopal, namun bertobat dan dibaptis ulang menjadi anggota gereja Baptis. Ia memberi contoh untuk tidak menerima pendaulatan dalam bentuk apapun untuk terus menjadi presiden. Seterusnya USA adalah negara demokrasi yang bebas dan memberi penghargaan tertinggi bagi hak asasi manusia. Terlebih lagi setelah Abraham Lincoln berhasil menghapus perbudakan pada tahun 1865.

Enyahlah Dari Pada-Ku

"Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan! " Matius 7:21-23

Ayat Yang Memaksa Kita Introspeksi

Pembaca yang terkasih di dalam Kristus, ketika anda membaca ayat-ayat tersebut di atas, pernahkah anda ingin tahu alasan Tuhan mengusir orang-orang yang berseru kepadaNya?Pernahkah terbayangkan oleh anda, jangan-jangan anda adalah orang yang akan Tuhan katakan, “enyahlah dari padaKu!” Siapakah orang-orang yang berseru-seru kepada Tuhan bahwa mereka telah melakukan mujizat, bernubuat, mengusir Setan demi namaNya, namun yang pada akhirnya Tuhan katakan bahwa Ia tidak pernah mengenal mereka?

Betapa sia-sianya kehidupan seseorang jika ia harus berakhir di Neraka. Tuhan pernah berkata tentang Yudas Iskariot, bahwa lebih baik Yudas tidak dilahirkan (Mat.26:24). Betul sekali, jika seseorang dilahirkan, bertumbuh besar, menjadi tua, kemudian mati dan berakhir di Neraka, maka lebih baik ia tidak dilahirkan.

Terlebih lagi jika seseorang telah menjadi Kristen, telah sangat bergiat dalam pelayanan, bahkan telah sangat banyak berkorban, namun ia bukan berakhir di Sorga melainkan di Neraka, betapa tragisnya keadaannya, bukan?