Jumat, 05 Februari 2010

INJIL GALATIA

Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia (Gal.1:6-8).

Rasul Paulus mensinyalir di Galatia telah berkembang injil lain yang berbeda dengan Injil yang telah diberitakannya. Injil ini dilihat Rasul Paulus sangat membahayakan kekristenan yang masih bayi. Rasul Paulus menyatakan bahwa sebenarnya itu bukan injil, melainkan tipu-muslihat iblis yang memutarbalikkan Injil.

Di Galatia tetap diajarkan tentang memegang hari-hari tertentu dan kelihatannya masih mengajarkan untuk memegang teguh ketetapan hari Sabat (Gal.4:10). Injil Galatia juga mengajarkan orang Kristen harus tetap melakukan sunat sesuai hukum Taurat (Gal.5:3-4).

Ini nyata sekali, injil Galatia tidak memahami maksud dan tujuan hukum Taurat dan ibadah simbolik yang diperintahkan dalam kitab Taurat dan kitab para Nabi. Mereka tidak memahami pernyataan Tuhan Yesus bahwa segala sesuatu yang tertulis dalam kitab Taurat, kitab para Nabi dan Kethubim adalah tentang diriNya (Luk.24:44).

Seharusnya setiap orang yang mengerti kebenaran menyadari bahwa perintah ibadah simbolik penyembelihan binatang korban adalah untuk mengingatkan umat manusia bahwa Allah berjanji untuk mengirim Juruselamat yang akan dihukumkan seperti binatang korban menanggung dosa umat manusia.

Ibadah simbolik ini pertama diperintahkan untuk dijaga oleh seorang ayah, namun kebobrokan manusia pada zaman Nuh membuktikan kegagalan para ayah. Kemudian Allah membangun sebuah bangsa sebagai penjaga ibadah simbolik melalui keturunan Abraham. Setiap laki-laki yang termasuk bangsa yang bertugas sebagai penjaga ibadah simbolik ditandai dengan disunat. Tuhan hampir membunuh Musa ketika ia bertugas memimpin bangsa itu keluar dari Mesir namun tidak menyunatkan anaknya. Zipora, sang istri yang penuh hikmat, berhasil menyelamatkannya dengan memohon kepada Jehovah agar menganggap mereka sebagai pengantin baru.

Setiap orang yang mencintai kebenaran harus mengerti bahwa perintah tentang makanan yang diharamkan beserta berbagai peraturan Perjanjian Lama adalah paket dari ibadah simbolik yang sifatnya mengingatkan manusia pada janji Allah. Melalui pelarangan makanan Allah mengajarkan makna kesucian hati yang dituntut Allah.

Sejak kedatangan Yesus Kristus, Juruselamat yang dijanjikan Allah, maka seluruh rangkaian ibadah simbolik tergenapi (terpenuhi), dan selesailah tugasnya. Itulah sebabnya kini tidak perlu lagi melakukan acara penyembelihan binatang korban karena Domba Allah, pusat dari seluruh ibadah simbolik, telah dikorbankan. Umat manusia memasuki ibadah hakekat, menyembah Allah secara rohani dan bersifat kebenaran (Yoh.4:23). Itulah sebabnya kita meninggalkan ibadah yang menekankan waktu, tempat, dan postur tubuh. Kini kita menyembah dengan hati, tanpa dibatasi waktu sehingga tidak ada ketentuan hari tertentu, artinya kapan saja bahkan setiap saat. Sikap hati kita setiap saat itulah ibadah kita. Otomatis tidak ada keharusan di tempat tertentu, dan dengan bentuk postur tertentu (berlutut).



Gereja Advent adalah gereja modern yang mengajarkan injil Galatia. Bahkan banyak gereja juga terlibat dalam pelestarian injil Galatia. Gereja-gereja pembaptis bayi tidak mengerti makna praktek sunat yang Allah perintahkan kepada Abraham, sebagian mereka memakai kasus sunat untuk membenarkan tindakan mereka membaptis bayi.

Banyak gereja tidak mengerti tentang peralihan ibadah dari simbolik ke hakekat dengan tetap memasukkan upacara-upacara simbolik kepada acara kebaktian mereka. Ada yang berkata, “mari kita masuk ke dalam penyembahan!” Ada juga yang meminta hadirin mengangkat tangan untuk melakukan penyembahan. Bahkan hampir semua orang Kristen menyebut acara kebaktian hari Minggu sebagai acara ibadah. Ini sebuah bukti bahwa mereka tidak mengerti bahwa ibadah orang Kristen adalah ibadah hakekat, yaitu bentuk penyembahan dengan hati, yang terjadi setiap saat dalam hidup mereka. Adalah kesalahan jika seseorang melihat acara hari Minggu pagi sebagai penyembahan(ibadah). Kelihatannya selain terpengaruh injil Galatia juga terpengaruh konsep Islam. Orang Kristen tidak beribadah hanya pada hari Minggu, melainkan SETIAP SAAT dalam hidup mereka. Sikap hati setiap saat di hadapan Tuhan itulah ibadah yang sesungguhnya.

Bahkan Lembaga Alkitab Indonesia terpengaruh konsep Islam yang mirip injil Galatia dalam menerjemahkan Alkitab. LAI menambahkan kata ibadah padahal tidak ada kata itu di bahasa aslinya (contoh: Ibr.10:25).

Banyak pemimpin gereja masih melarang jemaatnya memakan darah, bahkan mungkin masih ada (Advent) yang seperti Petrus, tidak membolehkan dirinya memakan makanan-makanan yang diharamkan di kitab PL (Kis.10:9-18). Petrus pun saat itu masih belum mengerti sepenuhnya kebenaran Perjanjian Baru dengan ibadah Hakekat. Memang wahyu dari Allah bersifat progresif, diturunkan secara bertahap. Kebenaran diungkapkan secara bertahap, karena mereka akan shock setelah seribu lima ratus tahun tidak boleh makan babi, darah, lalu secara tiba-tiba menjadi boleh. Oleh sebab itu dalam rapat di Yerusalem masih diputuskan tidak boleh makan darah (Kis.15:20). Padahal Tuhan Yesus sendiri telah membuat pernyataan yang sangat tegas bahwa tidak ada yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang lagi (Mrk.7:18-19). Mereka sungguh belum faham bahwa di zaman ibadah hakekat kesucian yang dituntut bukan lagi kesucian jasmani melainkan kesucian hati maka tidak ada sangkut-pautnya lagi dengan sesuatu yang masuk ke dalam mulut melainkan hanya yang keluar dari mulut.

Masih banyak gereja yang menyelenggarakan acara doa-puasa, dan lain sebagainya yang adalah praktek-pratek acara ibadah simbolik. Ada pengkhotbah yang berpuasa hari Sabtu agar memiliki kekuatan untuk berkhotbah hari Minggu. Konsep ini telah membuat acara puasa sebagai aktivitas dalam dunia perdukunan yang mendatangkan kekuatan magis. Berdoa puasa semalam suntuk katanya akan lebih didengar Tuhan. Ini adalah praktek asketikisme budhisme, yang intinya menyiksa diri untuk menimbulkan belas kasihan dari Tuhan, semacam tindakan mogok makan menuntut sesuatu dari pihak pemerintah.

Ternyata injil Galatia yang dikutuk oleh Rasul Paulus tidak mati melainkan masih hidup, bahkan berkembang dalam berbagai bentuk dan rupa hingga di abad ke-21. Pembaca yang saya kasihi, waspadalah, ingat injil ini dikutuk oleh Rasul Paulus. Supaya mengerti dengan mantap segala sesuatu tentang ibadah yang benar yaitu yang hakekat, anda perlu membaca buku-buku terbitan GRAPHE, anda bisa melihat-lihat di <www.grapheministry.org>.

Sumber: Pedang Roh Edisi 62 Tahun XV Januari-Februari-Maret 2010

Tidak ada komentar: